Menjadi guru itu menyenangkan
Menjadi guru itu menyenangkan
Menjadi seorang guru mungkin bukanlah pilihan dari sebagian
banyak orang. Tak banyak orang yang ingin menjadi guru, ada yang memilih
bekerja sebagai guru karena tak mendapatkan pekerjaan di bidang
lain. Menjadi guru bukanlah cita-cita saya, bahkan bekerja sebagai guru
adalah salah satu pekerjaan yang saya
hindari. Namun kenyataan berkata lain, saya 'terjebak' di dunia pendidikan
sekolah dasar. saya Nadia nofalia, disini saya akan sedikit berbagi pengalaman
saya mengajar di SD.
Pada semester V ini, saya ditugaskan untuk mengajar ke SD
dalam waktu satu bulan, saya memilih SD yang dekat dengan tempat tinggal. Disana
saya mengajar kelas IV yangmana pembelajarannya sudah menggunakan Kurikulum
2013. Pertama saya masuk kelas rasanya tak bisa kuduga, senang dan bangga saya
bisa menempati meja guru “oh jadi begini rasanya”. Guru muda yang
pengetahuannya masih perlu digali tapi sudah mulai terjun langsung mengajar.
Saat saya mengajar, anak murid saya masih perlu bimbingan dari saya karena
tidak semua murid disana itu bisa. Mengutip dari ‘Ahmadi bahwasannya guru
berperan sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Yang
mana menjadi guru itu tidak mudah, kita harus tahu betul bagaimana karakter
siswanya, bagaimana kita membuat siswa itu nyaman dengan kita, senang dengan
kita, dan terbuka dengan kita.
Selama saya mengajar di SD, banyak suka dukanya. Yang setiap
minggunya saya bertemu dengan mereka, banyak tantangan yang harus saya hadapi. Memang
menyenangkan dan menggemaskan namun kesabaran dan ketulusan selalu di uji, yang
setiap minggunya menghadapi tingkah anak-anak yang menjengkelkan namun harus
tetap sabar. Mulai dari siswa yang suka ribut, yang main-main, dan pokoknya
segala macam deh. Orang bilang menjadi guru itu enak, waktu jam mengajar sedikit,
banyak waktu dirumah. Memang iya sih, saya yang masih sebagai calon guru
merasakan hal itu. Akan tetapi setiap guru yang akan melaksanakan pembelajaran
di kelas, disadari atau tidak, akan memilih strategi tertentu agar pelaksanaan
pembelajarannya berjalan dengan lancar dan hasilnya optimal.
Ada perasaan takut
ketika saya mengajar, takutnya apa yang saya ucapkan anak murid saya juga
mengikuti. Karena seorang guru adalah contoh bagi anak muridnya. Guru
mampu menciptakan generasi penerus yang cerdas dan mampu menanamkan sikap dan
prilaku sopan kepada siswa. Jadi tidak hanya mengajar ilmu pengetahuan saja
namun juga harus jaga etika dan sikap. Mengutip dari ‘Thoifuri’ bahwasannya
guru dalam ranah kognitif maksudnya adalah
menjadikan peseta didik cerdas intelektualnya, sedangkan afektif berarti
menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan.
Karena menjadi guru tidak mudah, banyak
diluaran sana yang menginginkan profesi guru. Ya memang kebanyakan orang
memandang menjadi guru itu sejahtera hidupnya, kaya, dll. Mungkin yang
sejahtera dan kaya itu yang sudah PNS, lain halnya dengan guru honorer yang
gajinya dibayar oleh dana BOS. Gaji yang hanya pas-pasan digunakan dalam waktu
satu bulan, bahkan banyak kekurangannya. Belum lagi biaya untuk membuat media
pembelajaran, yang sekali dalam pembuatan media menghabiskan uang ±100ribu.
Coba bayangkan kalau seminggu membuat 3 media pembelajaran x 100rb? wah sudah
300ribuan deh. Sedangkan gaji honorer hanya dibayar 300rb, dan kalau dipakai
untuk membuat media apa yang didapat. Tapi walaupun begitu saya senang dengan
profesi guru, yang awalnya saya berfikir menjadi guru itu membosankan dan
menjenuhkan. Namun kenyataannya bermain dengan anak-anak sangatlah bahagia,
bisa bercanda bersama dan itu merupakan hal yang tidak ternilai harganya.
Saya mencintai murid-murid seperti mereka apa adanya, dengan segala
kelebihan dan kekurangan. Karena setiap mereka adalah unik. Mereka adalah
tunas-tunas yang harus dipupuk, generasi penerus harapan bangsa. Tetaplah cintai
dan sayangi muridmu sekalipun mereka menjengkelkan dan jadilah guru yang
sejati.
Komentar
Posting Komentar